Dailydose 280121
DAILY DOSE @TerangJakarta Kamis, 28 Jan 2021
BAB SHOLAT SUNAH DHUHA, TAHAJUD DAN SHOLAT HAJAT
By : Ustadzah Aini Aryani, Lc
Shalat Dhuha
Istilah Dhuha dapat ditemukan pada beberapa tempat dalam
Al-Qur’an (QS Thaha [20]:59; AI-‘Araf [7]:98; An-Nazi’at [79]:46), kata dhuha
diartikan sebagai “pagi hari” atau sebagai “panas sinar matahari” di tempat
lainnya (QS Thaha [20:119]). Istilah dhuha juga bisa mencakup kedua makna itu
sehingga diartikan “sinar matahari di pagi hari” (QS As-Syams [91]:1).
Dari
Abu Umamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَلَّى صَلاةَ الصُّبْحِ فِي
مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ يَثْبُتُ فِيهِ حَتَّى يُصَلِّيَ سُبْحَةَ الضُّحَى، كَانَ
كَأَجْرِ حَاجٍّ، أَوْ مُعْتَمِرٍ تَامًّا حَجَّتُهُ وَعُمْرَتُهُ
“Barangsiapa yang mengerjakan shalat shubuh dengan berjama’ah di
masjid, lalu dia tetap berdiam di masjid sampai melaksanakan shalat sunnah
Dhuha, maka ia seperti mendapat pahala orang yang berhaji atau berumroh secara
sempurna.”3
Hukum Shalat Dhuha
Hukum
shalat Dhuha adalah sunnah, bahkan dalam pandangan ulama madzhab Maliki dan
Syafi’i nilai kesunnahannya sangat kuat sehingga hukumnya adalah sunnah
muakkadah, ini setidaknya karena shalat ini rutin dilakukan oleh Rasuullah shallallahu
‘alaihi wasallam dan tidak hanya itu beliau juga mewasiatkan kepada
kita semua untuk juga merutinkannya, seperti dalam cerita hadits Abu Hurairah
diatas.
Adapaun
jumlah rakaat shalat Dhuha menimal dua rakaat, sedangkan untuk batasan
maksimalnya ada dua pendapat yang masyhur, satu pendapat mengatakan bahwa
batasan maksimalnya delapan rakaat berdasarkan hadits berikut:
عَنْ عَائِشَةَ t قَالَتْ: دَخَلَ النَّبِيُّ r بَيْتِي فَصَلَّى الضُّحَى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ
Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke dalam
rumahku dan shalat dhuha 8 rakaat. (HR Abu Daud)
Namun
pendapat berikutnya menyatakan bahwa maksimal shalat dhuha ini boleh
dilaksanakan hingga dua belas rakaat, berdasarkan hadits rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam berikut:
عَنْ أَنَسٍ t قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ r مَنْ صَلَّى الضُّحَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بَنَى اللَّهُ
لَهُ قَصْرًا فِي الجَنَّةِ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ
Dari Anas bin Malik radhiyallahu
anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang melakukan shalat dhuha 12 rakaat, maka Allah
telah membangunkan untuknya istana di surga” (HR. Tizmidzy)
Apapun
itu yang jelas setidaknya kita mulai dari dua rakaat terlebih dahulu sebagai
awal dari langkah dalam membentuk kebiasaan shalat dhuha, jika sudah mampu baru
melangkah pada level empat rakaat, dan begitu seterusnyanya.
Tata Cara Pelaksanaan
Shalat Dhuha
- Shalat Dhuha
dilakukan sebanyak sedikitnya dua raka’at dan maksimal delapan atau
duabelas rokaat. Kisah Umar Bin Khatab menegur sekelompok anak muda : Suatu
hari, Khalifah Umar sedang melihat keadaan rakyat. Di perjalanan keliling
kota, Khalifah Umar melewati sebuah masjid yang di dalamnya ada sekelompok
anak muda. Mereka begitu asyik beribadah, bahkan ada salah satu dari
mereka sangat khusyuk. Khalifah Umar kemudian masuk ke dalam masjid itu. -
" Siapakah kalian?" tanya Khalifah Umar. - " Kami adalah
sekelompok anak muda yang bertawakal kepada Allah. Sepanjang hari kami
habiskan waktu untuk berzikir, berdoa, dan melakukan sholat sunah,"
kata salah satu anak muda.- " Hai, anak muda, keluarlah dari masjid
dan bekerjalah! Jangan kalian menjadi pembohong. Harus kalian tahu, Allah
tidak menghujankan emas dari langit," ucap Khalifah Umar dengan
lantang. – Ucapan Khalifah Umar itu membuat sekelompok anak muda itu
terkejut. Mereka sebelumnya berharap pujian dari Khalifah Umar. - "
Wahai, Amirul Mukminin. Bukankah Allah memberikan kecukupan kepada orang
yang berserah diri dan Dia pulalah yang berjanji untuk memberikan jaminan
rizki kepada makhluk-Nya," kata salah satu pemuda. - Tetapi, jawaban
Khalifah Umar justru membuat mata para pemuda itu terbelalak. - "
Kalian bukan tipe orang yang berserah diri kepada Allah. Orang yang
berserah diri kepada Allah adalah orang yang rajin bekerja untuk menggali
potensi alam dengan dan tanpa meninggalkan doa kepada-Nya," jawab
Khalifah Umar. - Khalifah Umar melanjutkan ucapannya, " Hai umat
manusia carilah rezeki di muka bumi, jangan kalian menjadi beban orang
lain. Bekerjalah secara baik dan benar karena bekerja dengan seperti itu
banyak dibutuhkan. Bila di antara kalian yang pandai berdagang, maka
jadilah pedagang yang handal. Janganlah ada di antara kalian orang yang
duduk bermalasan sambil berdoa, 'Ya Allah, berikanlah aku rezeki yang
halal, yang banyak yang membawa berkah.' Ingatlah, Allah tidak akan
menurunkan hujan emas dari langit. Allah memberikan rezeki kepada umat
manusia dengan disertai usaha, tidak datang begitu saja. Sesuai dengan
usahanyalah seseorang akan memperoleh rezeki."
- Gerakan dan
bacaannya sama dengan shalat-shalat lainnya, surat pendek setelah Al
Fatihah bisa surat apa saja namun lebih afdol bila rokaat pertama membaca
Surat As Syams dan rokaat keuda membaca Surat Ad Dhuha, atau rokaat
pertama membaca surat Al Kafirun dan rokaat kedua membaca surat Al Ikhlas.
- Waktu shalat
Dhuha sebagaimana waktu dimulainya shalat Isyroq atau setelah sholat
Isyroq yaitu mulai matahari setinggi tombak, sekitar 15-20 menit setelah
matahari terbit sampai sebelum masuk waktu istiwa (matahari tepat di atas
kepala).
Shalat Isyroq / Syuruq
Dari
Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
« مَنْ صَلَّى
الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ
الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ».
قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ »
“Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah
lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia
melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan
umroh.” Beliau pun bersabda, “Pahala
yang sempurna, sempurna dan sempurna.”4
Tata Cara Pelaksanaan
Shalat Isyroq
1. Shalat
isyroq dilakukan sebanyak dua raka’at. Gerakan dan bacaannya sama dengan
shalat-shalat lainnya.
2.
Berdasarkan hadits-hadits yang telah dikemukakan, shalat isyroq
disyariatkan bagi orang yang melaksanakan shalat jama’ah shubuh di masjid lalu
ia berdiam untuk berdzikir hingga matahari terbit, lalu ia melaksanakan shalat
isyroq dua raka’at.
3.
Ketika berdiam di masjid dianjurkan untuk berdzikir. Dzikir di
sini bentuknya umum, bisa dengan membaca Al Qur’an,membaca dzikir, atau lebih
khusus lagi membaca dzikir pagi.
Karena pandemic, maka tak apa sholat syuruq di rumah asalkan
mengikuti hadist Rasululloh sholat subuh berjamaah, duduk berdzikir hingga
matahari terbit (Ustadzah Aini Aryani,Lc)
4.
Waktu shalat isyroq sebagaimana waktu dimulainya shalat Dhuha
yaitu mulai matahari setinggi tombak, sekitar 15-20 menit setelah matahari terbit.
Hal ini sebagaimana keterangan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin5 dan
Al Lajnah Ad Daimah6 mengenai pengertian matahari setingi
tombak.
َنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : أَوْصَانِي خَلِيلِي – صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِصِيَامِ ثَلاَثَةِ أيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ،
وَرَكْعَتَي الضُّحَى ، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَرْقُدَ . مُتَّفَقٌ
عَلَيْهِ.
وَالإيتَارُ قَبْلَ النَّوْمِ إنَّمَا يُسْتَحَبُّ لِمَنْ
لاَ يَثِقُ بِالاسْتِيقَاظِ آخِرَ اللَّيْلِ فَإنْ وَثِقَ ، فَآخِرُ اللَّيْلِ
أفْضَلُ.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Kekasihku—Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam—mewasiatkan
kepadaku untuk puasa tiga hari setiap bulan, mengerjakan shalat Dhuha dua
rakaat, dan melakukan shalat witir sebelum tidur.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR.
Bukhari, no. 1178 dan Muslim, no. 721]
Shalat Hajat
Sholat Hajat adalah ibadah sholat yang dilakukan
ketika seseorang memiliki suatu keinginan ataupun hajat. Ibadah ini merupakan
satu bentuk ikhtiar agar keinginan kita dikabulkan oleh Allah SWT. Entah itu
keinginan yang berkaitan dengan rezeki, jodoh, atau perlindungan dari
perkara-perkara mudarat.
Rasulullah SAW pernah bersabda sebagai
berikut:Siapa yang berwudhu dan sempurna wudhunya, kemudian sholat dua rakaat
(sholat hajat) dan sempurna rakaatnya, maka Allah berikan apa yang dia pinta
cepat atau lambat." (HR.Ahmad)
Tata cara Shalat Hajat
Sholat hajat
hendaknya dilakukan sebanyak 2 hingga 12 rakaat. Setiap 2 rakaat harus disertai
dengan salam.
Pengerjaannya bisa
dilakukan kapan saja, kecuali di waktu-waktu yang dilarang melakukan ibadah
sholat. Waktu yang dimaksud adalah:
·
Selepas sholat subuh hingga matahari terbit
·
Selepas waktu ashar hingga matahari terbenam
Waktu terbaik untuk melakukan
sholat hajat adalah malam hari, terutama di sepertiga bagian terakhir malam.
Artinya: "Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Penyantun lagi Mahamulia, Mahasuci Allah Tuhan yang memiliki Arsy yang besar. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.
Aku memohon kepada-Mu hal-hal yang mendatangkan rahmat-Mu dan hal-hal yang
memastikan ampunan-Mu, dan terpelihara dari semua dosa yang menjarah setiap
kebaikan dan selamat dari semua dosa. Janganlah Engkau tinggalkan suatu dosa
pun bagiku, melainkan Engkau mengampuninya, dan tidak pula kesusahan melainkan
Engkau berikan penawar kepadanya dan tidak pula suatu keperluan yang diridhai
oleh-Mu melainkan Engkau memastikan buatku, wahai Yang Maha Penyayang diantara
para penyayang."
Kemudian membaca secara eksplisit doa akan hajatnya.
Shalat Tahajud
Sholat tahajud adalah salat sunnah muakkadah yang dikerjakan pada malam hari setelah tidur terlebih dahulu. Waktunya setelah Isya sampai akan masuk subuh.
Keutamaan Shalat Tahajud :
1. “Sesungguhnya
orang-orang yang bertaqwa berada dalam taman-taman surga dan di mata air-mata
air, seraya mengambil apa yang Allah SWT berikan kepada mereka. Sebelumnya
mereka adalah telah berbuat baik sebelumnya (di dunia), mereka adalah orang-orang yang sedikit tidurnya di waktu malam dan di
akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah.” (QS. Az Zariyat: 15-18).
2. “Dan
hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di
atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka,
mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan
orang yang melewati malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.”
(QS. Al-Furqan: 63-64).
3. Hadis
Rasulullah SAW saat itu kepada Abdullah Ibnu Muslim berkaitan dengan
keistimewaan sholat tahajud. “Hai sekalian manusia! Sebarkanlah salam, dan
bagikanlah makanan serta sambunglah silaturahmi dan tegakkan lah sholat malam saat manusia yang lain sedang tidur, niscaya
kalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Ibnu Majah).
4.
Nabi Muhammad SAW bersabda:“Rabb kita
Subhana wa Ta’ala turun setiap malam ke
langit dunia ketika masih tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia
berfirman: 'Barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku
mengampuninya. Barangsiapa yang memohon (sesuatu) kepada-Ku, niscaya Aku akan
memberinya. Dan barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku akan
mengabulkannya.'" (HR. Bukhari).
5.
Bila kamu juga melaksanakan ibadah ini
secara rutin, maka kamu juga termasuk orang yang saleh. “Biasakanlah dirimu untuk
shalat malam karena hal itu tradisi orang-orang saleh sebelummu, mendekatkan
diri kepada Allah, menghapus dosa, menolak penyakit, dan pencegah dari dosa.”
(HR. Ahmad).
Tata cara Shalat Tahajud:
Shalat Tahajud tidak dianjurkan dikerjakan berjamaah tetapi
boleh saja. Paling sedikit dikerjakan dua rakaat dan maksimal
sebanyak-banyaknya. Huzaifah Bin Yaman dan Ibnu Abbas adalah yang pernah sholat
tahajud berjamaah dengan Rasululloh meihat Rasululloh sholat tahajud tidak
lebih dari delapan rokaat, dengan bacaan surat setelah Al Fatihah setidaknya
tiga surat di masing-masing rokaat, antara lain rokaat pertama Rasululloh
membaca surat Al Baqarah, Al Imron dan An Nisa, demikian selanjutnya, dan
membacanya dengan tartil.
Kisah soal shalat tahajud Rasulullah
pernah diriwayatkan oleh Aisyah RA. Menjelang Subuh di Madinah. Aisyah
menemukan kaki suaminya, Muhammad SAW, sudah bengkak-bengkak. Manusia maksum
itu baru saja menyelesaikan shalat malam sebelas rakaat.
Aisyah pun bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa
suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah
mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yaDng akan datang? Rasulullah
menjawab, "Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?" (HR Bukhari Muslim).
Adab sebelum tidur
ala Rasulullah SAW dalam Islam.
- Tidur
dalam keadaan wudhu. Umat muslim disarankan untuk wudhu dulu setiap kali
hendak tidur. Dari Al Baro bin Azib, Rasulullah SAW bersabda, “Jika
engkai mendatangi tempat tidurmu maka wudhulah seperti wudhu untuk salat,
lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu.” (HR. Bukhari dan
Muslim).
- Setelah
berwudhu, adab sebelum tidur selanjutnya adalah berbaring pada sisi kanan.
Tidur dalam posisi ini dikatakan sebagai posisi terbaik dan menjauhkan
diri dari segala godaan setan selama tidur.
- Adab
ketiga adalah meniup telapak tangan sambil membaca surat Al-Ikhlas,
Al-Falaq dan surat An-Naas masing-masing sekali. Setelah itu usapkan kedua
telapak tangan ke wajah.
- Adab
keempat adalah membaca ayat kursi. Melantunkan ayat suci bertujuan agar
kita terhindar dari bujuk rayu setan. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW
bersabda, “Jika engkau hendak berbaring di atas tempat tidirmu
bacalah ayat Al Kursi karena dengannya engkau selalu dijaga oleh Allah
Ta’ala dan setan tidak akan bisa mendekatimu sampai pagi. Benar yang
dikatakannya padahal dia itu pendusta. Dia itu setan.” (HR. Bukhari).
- Adab
kelima adalah membaca doa sebelum tidur. Doa tersebut adalah sebagai
berikut, “Bismika allahumma amuutu wa ahya (Dengan nama-Mu, Ya Allah aku
mati dan aku hidup).”
- Adab
keenam adalah tidurlah di awal malam. Pastikan untuk mendirikan salat
isya’ terlebih dahulu sebelum tidur dan hindari begadang apalagi untuk
hal-hal yang tidak bermanfaat.
- Niatkan
untuk bangun Qiyamul Lail
Qiyamul Lail
qiyamul lail adalah menggunakan waktu
malam atau sebagiannya meskipun sebentar untuk shalat, membaca Alquran atau
berzikir kepada Allah SWT, tilawah Alquran, mendengar hadis, bertasbih atau
bershalawat.


Komentar
Posting Komentar